Showing posts with label review (kind of). Show all posts
Indonesia Comic Con 2015 : A Journal
.
Category journal, review (kind of)
watercoloring experience #1
.
halo.
sebagai follow up post kemarin tentang mencoba hal-hal baru, akhirnya aku memutuskan untuk mencoba hal baru yang lain yaitu nyoba watercolor painting. selama ini aku sering lihat art post di tumblr/dA yang pake watercolor, dan aku suka banget sama warna dan vibenya, kebetulan salah satu temenku juga seneng banget pake watercolor; jadi muncullah keinginan untuk coba-coba. lumayan kan, kalo mau ngewarna ga usah bergantung lagi sama digital. (karena aku belajar coloring digital lebih intense daripada coloring tradisional, ya ... jadi hasilnya begini deh)
kemarin beli watercolor model cake gitu, nggak mahal-mahal amat sih tapi lumayan sih warnanya cakep-cakep dan ngemix warnanya enak! mereknya giotto aquarelli, merek italia. baru kali ini denger watercolor merek ini jadi awalnya agak ragu buat beli, kepikirannya sih mau nabung aja buat sekalian beli merek idamanku koi sakura, tapi sayang gitu ga sih koi sakura mahal banget dan cuma dipake buat latihan doang. akunya juga belum jago-jago amat. akhirnya memutuskan buat beli giotto, dengan harga seperlimanya koi sakura heu heu heu.
ada 12 warna yang bisa dicampur sesuka hati dan menghasilkan warna baru, dan baiknya giotto ini dia juga menyediakan satu tube khusus buat cat warna putih. model cake begini biasanya rentan kecampur sama warna lain dan kehilangan warna aslinya, terutama putih (sumpah kelimpungan banget pas pertama kali pake, warna putihnya kecampur gitu gara-gara nggak telaten bersihin kuasnya, jadi harus dilap pake tisu so sad) jadi ada bonus deh cat tube yang bebas kontaminasi warna lain. bentuk paletnya lumayan lebar, not very portable as koi sakura, tapi lumayan slim buat dibawa kemana-mana. ada dua tempat kuas, dan tutupnya bisa dipake jadi palet.
selama trial watercolor painting ini, sasha yang begitu amatiran sering teledor bersihin kuas, dan lupa menyediakan air bersih biar kuas bener-bener bersih dan nggak nyampur ke warna lain. itu beneran watercolor 101 yang aku lupakan dan akhirnya malah kelimpungan. lain kali tidak boleh mager ya sasha.
overall watercolor painting itu asik banget!!! campuran warnanya cantik dan pas udah kering jadi bagus banget. aku sering iseng ngegoyang-goyangin kertas biar tetesan cat mengalir dan meninggalkan jejak warna di atas kertas. ngatur ketebalan warna di kertas juga seru dan cukup gampang! sempet nyobain teknik wet on wet (ngaco) juga, and i love how the color spreads throughout the wet paper. kayak ledakan warna gitu. terus nyampur dengan warna lain. duh cantik banget.
Category review (kind of), watercoloring
[review] Puella Magi Madoka Magica - The Story of Rebellion (Movie)
.
Title: Puella Magi Madoka Magica : Hangyaku no Monogatari (The Story of Rebellion)
Runtime: approx. 1 h 56 min.
Genre: Magical Girls, Fantasy, Psychological, Thriller
Rating: Teen and Up Audience
Personal Score: 11/10 << im goddamn serious about this
--
Awalnya saya ga begitu tertarik nonton movie-movienya Madoka Magica (meskipun saya suka banget sama serial animenya) karena dua movie pertama cuma recap, terus pas movie yang ketiga ini tayang saya dikasih tahu kalo ceritanya beda banget dan merupakan direct sequel dari animenya. Saya penasaran kan, dan mutusin buat nunggu aja sampai DVDnya release
Dan pas udah nonton ...
... saya gatau mau ngapain, entah pengen nyesel, entah bersyukur...
Nyesel. Nyesel karena movie ini ratusan kali lebih mind-torturing daripada anime aslinya. Para audience dibawa jauh ke dalam sisi gelap seorang Magical Girl/Puella Magi dan seolah 'dijebak' di sana. Twist-nya juga ngeselin IMHO, saya ga bisa nahan mulut saya buat ga jawdrop melihat apa yang terjadi pada plotnya. Memang ada masa-masa dimana saya nganggep twistnya sedikit nonsense, tapi mengingat Kyuubey pernah bilang kalo Puella Magi itu menyimpan kemungkinan yang tidak terbatas, twist yang disajikan di sini adalah bukti ucapan itu -- salah satu kemungkinan yang dimiliki seorang Puella Magi.
Anime ini horor secara psikologis. Yap. Mungkin cuma saya aja, tapi art yang dipakai di anime ini sungguh surreal, sungguh cantik namun juga menakutkan. Anime ini punya beberapa hal trivial yang seandainya kalian menyadarinya, anime ini bisa jadi jauh lebih horor. Itu membuktikan betapa well-made-nya anime ini dan betapa matang universe building-nya. Bener-bener surreal, dark, dan ... aaaah. Serem.
Bersyukur. Bersyukur karena bisa liat anime bagus macem gini lagi. Nggak bisa dipungkiri, artnya yang surreal itu cantik banget di mata saya, meskipun menakutkan. Musik, as expected from Kajiura Yuki, juga membawa suasana menjadi lebih terasa nyata. Nggak salah emang Madoka Magica kadang disejajarkan dengan Evangelion kalau soal kualitas cerita dan mind-torture. Kegelapan yang kita bisa lihat di sini, di The Story of Rebellion, merupakan kegelapan hati manusia, seorang individu, and sometimes we have no idea how dark it could be and how to depict that. Menurut pendapat saya, Rebellion sudah cukup bisa membawa konsep 'kegelapan' itu ke dalam bentuk animasi visual dan cerita yang cantik dan matang.
Pokoknya .... saya harus nonton ini lagi.
Closing quotes, from the series' creator, Gen Urobuchi:
" When I try to write love, it only turns into horror. Thinking about it with a clear head, feeling such deep emotions to some other person you don't even know is truly a terrifying thing. Also, I wonder if love isn't a manifestation of madness in some way."
Category review (kind of)
[review] Monogatari Series : Second Season
.
entah kesambet apa, dua hari sebelum UTS saya malah iseng nyobain nonton anime satu ini, dan -- orz semacam keputusan yang salah karena anime ini nagih banget -- senagih prekuelnya, Bakemonogatari, yang saya khatam-in dalam waktu satu hari dulu waktu masih kelas XI -- dan satu hari saya bisa streaming tiga episode. ngedistrak belajar sih orz tapi untung hari ini udah selesai nonton sampe episode 15, jadi bisa tenang belajar sekaligus nungguin episode-episode selanjutnya yang keluar seminggu sekali :D
Monogatari Series adalah anime yang diangkat dari light novel karya Nisio Isin, diproduksi oleh studio SHAFT dan merupakan direct sequel dari Bakemonogatari dan Nisemonogatari. Berkisah tentang seorang pelajar SMA, Araragi Koyomi, yang menolong para gadis dari masalah-masalah yang berkaitan dengan oddities (kalau bahasa indonesianya apa ya? pokoknya makhluk-makhluk halus sebangsa hantu, youkai, ayakashi, deities, dan segala macem lah) dan ternyata Araragi sendiri adalah seorang quasi-vampire, setengah manusia dan setengah vampir.
mungkin untuk beberapa orang, premis ceritanya malesin banget ya haha karena lagi-lagi harem (satu cowok dengan banyak cewek), lagi-lagi cewek-cewek cantik yang pasti kerjaannya bakal mengumbar fanservice, lagi-lagi loli, dan banyak 'lagi-lagi' lain. jujur saya juga dulu nggak pernah tertarik nonton Monogatari Series. saya ada trauma sama anime harem sih ya hahaha dan saya juga ga pernah suka (banget) sama anime harem. tapi kalau ga salah waktu itu saya lagi biased (banget) sama Kamiya Hiroshi, yang ngisi suaranya Araragi, dan pengen nonton anime which he involved in -- and some website recommend Bakemonogatari, first installment of Monogatari Series. karena kakak kelas saya yang kebetulan seleranya sama bilang kalau Bakemonogatari bagus, saya coba buat nonton, dan--
--whoa.
parah keren banget. jujur ini satu-satunya anime harem yang bener-bener saya suka. saya beneran suka banget. indeed ada fanservice yang annoying tapi ceritanya bikin mindfuck dan visualnya stunning banget.
saya sempet kecewa waktu nonton direct sequelnya, Nisemonogatari. entah kenapa saya ngerasa Nisemonogatari flat banget dan kurang greget kalau dibandingkan prequelnya. gara-gara itu juga saya ngeskip Nekomonogatari: Kuro (selain karena center of arc-nya cewek yang kurang saya suka sih ya haha) dan tadinya sih nggak minat-minat banget nonton yang Second Season, entah kenapa akhirnya kesambet nonton dan well yeah SHAFT, my faith on you restored yay! /o/
saya belom pernah baca novelnya tapi IMHO eksekusi alurnya mantap banget. melalui visual yang out-of the box, penuh alegori, simbolisasi, dan jokes-jokes yang 'mikir' keseluruhan plot dan karakterisasi tersampaikan dengan baik. musiknya juga jadi makin keren :") di beberapa arc ada yang pacingnya kurang pas sih, tapi overall keren banget, type of anime that would keep me at the edge of my seat haha.
karena belom tamat saya belom bisa ngasih review mendetail sih, jadi saya pengen share aja apa aja sih aspek yang bikin saya jatuh cinta sama installment Monogatari yang satu ini. all my compliments go to Nisio Isin-san, Akiyuki Shinbo-san, and Monogatari staffs, you did one hell of a good job.
1. Eksekusi alur
.... mindfucking, indeed :") setiap arc selalu bisa bikin saya bertanya-tanya HAH INI KENAPA OH BEGINI TOH LOOOH KOK BISAAA? dan itulah yang bikin Monogatari Series second season ini nagih banget hahaha waktu itu pernah disconnect pas lagi streaming dan itu ngeselin haha saya langsung guling-guling gara-gara penasaran kelanjutannya bakal gimana :"D
2. Visual
as expected from SHAFT, sih. aduh pokoknya nggak bisa dideskripsikan pake kata-kata deh, pokoknya konsep art dan animation yang mereka pake di sini tuh selalu out-of-the-box. kayak ngeliat lukisan. cantik banget :"D
3. Dialogue, monologue, and implicit message-heavy.
Karakternya banyak ngomong, baik dialog maupun monolog. dan kalimat-kalimat mereka itu bener-bener 'berisi' dan nge-lead pada satu kesimpulan secara bertahap. kayak belajar SAP hahaha jadi beneran harus ngikutin banget step-step berpikir para karakternya untuk menyimpulkan apa yang ingin mereka sampaikan, kalo kehilangan satu step aja dijamin bakal bingung. itu yang bikin karakternya 'hidup' kalau menurut saya. selain itu, visual yang mereka pake juga mengandung banyak makna. ada saat-saat dimana dialog atau monolog yang agak samar terdeskripsi dengan jelas dalam visualnya. the characters speak a thousand words, the visuals speak a thousand words, so Monogatari speaks two thousand words. itu yang bikin Monogatari unik. :D
4. Real? Surreal?
Indeed, premis cerita (juga visual) Monogatari nyerempet-nyerempet surrealisme. Tapi kenapa ya saya justru merasa, dalam segala cerita yang dikemas dalam surrealistis, ada aspek-aspek yang realistis?
5. Characterization and Character-fcking-development
NAAAAH ini dia sih sebenernya aspek yang paling bikin Monogatari greget. Cowok yang menjadi center dalam cerita ini, bukan cowok sempurna pujaan sejuta umat atau pula cowok 'biasa' yang tiba-tiba aja disukai banyak cewek karena terlalu 'biasa'. Araragi disukain banyak cewek karena ia menolong mereka, simply that. Aside from his kindness, dan statusnya sebagai selalu-jadi-hero-of-the-day, dia juga bisa jadi cowok nyebelin yang mesum hahaha. Dan selain itu, beda dengan anime harem lain yang kesannya cuma nge-develop relationship hero dan heroine(s) nya, di Monogatari heroines-nya juga berkembang bersama hero-nya dan hubungan diantara mereka. Also, di Monogatari the hero already settled to one girl, the main heroine -- meskipun kelihatannya Araragi itu cowok brengsek tukang nikung ga inget pacar, tapi kenyataan kalau ia sayang sama pacarnya dan perasaan itu mutual selalu ditegaskan meskipun nggak selalu 'eksplisit'. mereka -- Araragi sama pacarnya, Senjougahara -- belom pernah diliatin bareng selama Second Season, tapi ada banyak adegan yang menegaskan kalau Araragi already settled to Senjougahara, they love each other and it's enough. Urusan cewek-cewek lain yang ngantri demi dia itu bukan urusan Araragi, urusan mereka sendiri. #jahat #otpbias
"It makes me really happy, but you know, I already have a girl I like." -- Araragi to Hanekawa, Nekomonogatari: Shiro arc.
"The first thing I have in mind is, is there any way I could do to help my girlfriend, Senjougahara Hitagi?" -- Araragi to Shinobu, Kabukimonogatari arc
"Hello, this is Senjougahara Hitagi. Is my man still alive, Sengoku-san?" -- Senjougahara to Nadeko, Otorimonogatari arc
Dan di parallel world, parallel!Araragi juga pacarnya parallel!Senjougahara loh udah sih jodoh #diem
And the girls? I found some of them annoying before dan entah kenapa ke-annoying-an mereka bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang awesome dan bikin saya terpana ( I found that in Nekomonogatari: Shiro, Kabukimonogatari, and Otorimonogatari arc, sampah Otorimonogatari mindfuck abis ) tapi yang bikin ngeselin emang perkembangan karakternya Senjougahara Hitagi yang kesannya stuck di tempat dan kurang 'ngalir' dan 'natural'--dia bias saya sih makanya saya bisa protes kayak gini haha. Sisanya udah bagus (banget) kok. Looking forward to Hanamonogatari to found out about Kanbaru Suruga's development! :3
6. References, Parodies, Callbacks and Shoutouts :D
saya seneng sama hal-hal trivial kayak gini, dimana kadang dalam sebuah anime terdapat referensi terhadap anime lain, parodi, atau kejadian nyata; terlebih lagi kalau referensi itu nggak eksplisit atau dijadiin parodi haha. kayak waktu Araragi lupa ngerjain PR musim panas dan dia langsung jadi Nobita dan Shinobu jadi Nobuemon www atau lagu OP Mousou Express yang merupakan direct reverse dari OP Bakemonogatari, Renai Circulation. Referensi yang paling ga bisa saya lupain itu di Bakemonogatari, pas Senjougahara muji-muji Saitou Chiwa--yang merupakan seiyuu dia haha nggak tahu deh itu Saitou-san adlib apa bukan :))
7. Reversed logic (mungkin bisa dicoba untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.)
Salah satu contohnya udah disebutin sebelumnya, yakni Mousou Express. Selain itu, di Monogatari series, para karakter yang punya sisi 'gelap' seperti Hanekawa Tsubasa dan Sengoku Nadeko, sisi 'gelap' mereka selalu digambarkan dengan warna putih. Black Hanekawa adalah sosok setengah-manusia setengah-kucing berwarna putih dan Nadeko Medusa memiliki rambut dan juga minions berupa ular putih. dalam sudut pandang monogatari series, warna putih itu 'white lies of ignorance' ketika 'sisi gelap' kita terbentuk ketika kita mengalihkan mata dari kenyataan sehingga membuat diri kita 'putih' akan kenyataan. yang 'putih' itulah sisi 'gelap' kita, karena itu 'gak gelap oleh realita' atau semacam itulah untuk pemahaman saya yang emang agak cetek gini haha saya ga pinter berfilosofi, lol.
Overall this is a good work, dan frankly saya seneng ini nggak se-mainstream anime-anime sebelah www. Kalo boleh dibilang, ini hidden gem di anime Summer - Fall 2013 :)
And anyway I'm looking forward for Koimonogatari HUHU perasaan saya ga enak sama arc satu ini, bau-baunya ship Araragi/Senjougahara bakal doomed aduh kapan coba saya punya OTP yang nggak tragis :"(
edit: I forgot to mention about another aspect I loved from Monogatari Second Season; HANAZAWA KANA. OUR GODDESS OF MOE HAS GONE BEYOND EPIC she kept my mouth on the floor ;;A;;) dan juga seiyuu-seiyuu yang lain (meskipun IMHO suaranya Iguchi Yuka jadi agak flat gimana gitu ...) did their best ;;w;; Saitou Chiwa dan segala wibawanya as Senjougahara also deserve credit www
Category review (kind of)
the garden of words | feels? thoughts?
.
kemaren--nggak kemaren, sih, tapi kayaknya minggu lalu--nonton The Garden of Words-nya Makoto Shinkai.
dan ...
... galau. ___(:"3
Clouded skies;
Perhaps rain comes – if so, will you stay here with me?”
Even if rain comes not;
I’ll stay here, together with you…”
visit this site for further observation -- it's more thorough than this rambling lol
Category galau, oke ini galau, review (kind of), tulisan menjelang tidur

