Showing posts with label tulisan menjelang tidur. Show all posts

yang dikangenin


.

malam-malam begini dengan randomnya kepikiran, kangen juga ya dipanggil tsun-chan. singkatan dari tsundere-chan. tsundere itu orang-orang yang galak di luar tapi menye menye di dalam. orang-orang yang defense mechanismnya berupa reaction formation. duile bahasanya defense mechanism banget nih sasha. tapi iya sih, tsunderes itu orang-orang yang sulit untuk stay true to themselves, penuh denial, dan gengsi ketinggian. dan dulu aku pernah dipanggil tsun-chan. sama certain seseorang. entah alasannya kenapa. aku ngerasa tsundere aja nggak. (YHA)

jelas dulu aku nggak suka dipanggil begitu and even I asked them (i used them to emphasize gender neutrality, not referring the amount of the people) to stop tapi ya tetep aja bandel manggil tsun-chan, makin aku bilang jangan panggil malah makin dipanggil, yaudah didiemin sampai akhirnya dia berhenti manggil tsun-chan. jangankan manggil sekarang aja udah jarang ngobrol haha.

ternyata sesuatu yang bisa kita kangenin itu bukan cuma sesuatu yang menyenangkan ya, sesuatu yang menyebalkan namun pernah jadi bagian integral dari kehidupan kita sehari-hari, ketika hilang juga mungkin akan muncul rasa rindu akan kehilangan tersebut. seolah hal tersebut meninggalkan suatu void, padahal kita nggak suka, lucu ya how humans minds work.

sembarangan


.

halo. gue sasha. orangnya perfeksionis-tapi-sembarangan, nggak ngerti juga kenapa bisa kontradiktif begitu. suka naro baju sembarangan. naro buku sembarangan. naro barang-barang sembarangan. kadang masih suka buang sampah sembarangan tapi kebiasaan jelek ini sedang berusaha direduksi.

kadang juga buang cinta sembarangan.

.... murah banget berarti cinta gue ya hahahahahaha apasih

childhood


.

kemaren nonton kami voice: voice give a miracle, terus mereka pada main hana-ichi-monme. aku lupa permainan ini di indonesia namanya apa ( pokoknya ada dua kelompok yang berhadapan terus gerak maju-mundur gitu terus salah satu teriak 'saya orang kaya' terus dibales 'saya orang miskin' dst dst terus minta anak gitu, aduh sumpah lupa namanya apa orz ) tapi yang jelas ngeliat para aktor jepang ini main hana-ichi-monme di akihabara ... aku jadi kangen pengen main juga haha.

anak zaman sekarang masih suka main permainan ini ga sih?

counting "numbers"


.

sasakure.UK.

nemu lagi lyricist yang liriknya bener-bener cakep dan worth to think (bukan worth to sing lagi haha) sebenernya udah tahu komposer satu ini sejak agak lama karena Campanella dan Little Cry of The Abyss, dan makin cinta banget sama lirik-liriknya sasakure sejak liat to Asteroid B-612 dan The Soliloquy of The Boy Who Cried Wolf.

dan to Asteroid B-612 itu ...

... cantik bangetlah.


grown-ups don't understand
because grown-ups like numbers
they never ask what is really essential
because grown-ups don't know what they're looking for
they always go round and round the same place
dan somehow, bisa dijadiin refleksi juga haha.

kadang memang gitu kan--hal esensial ga keliatan karena kita terlalu overshadowed sama hal yang sebenernya sifatnya ... relatif? I'm not saying kalo angka itu ga mutlak (angka itu abstrak--oh Phytagoras, darimana engkau menyimpulkan kalau relasi angka itu fisis sih? orz) tapi ... angka itu relatif tergantung yang ngasih angka itu kan.


dan that overshadowing matters are ... sebenernya tipis. tapi gede. jadi ngalangin. haha.

another insight: grown-ups disini bukan berarti orang dewasa dalam konteks 'mature' kali ya ... mungkin konteks usia yang bertambah (hanya usia) jadi semakin usia nambah, semakin sering kita terbawa arus dan dari grown-up menuju mature itu perbedaannya cuma purpose dan determination. gitu kali ya. apaan lah ini sosoan filosofis padahal baca SAP bab pertama aja puyeng

 

probably, i'm like them now
again i'm spending my time counting "numbers"...

mungkin saya juga masih begitu sekarang. masih ngitung angka, bukan nilainya. :)

--jadi, kapan mau ganti kacamata, sha?

the garden of words | feels? thoughts?


.

kemaren--nggak kemaren, sih, tapi kayaknya minggu lalu--nonton The Garden of Words-nya Makoto Shinkai.

dan ...

... galau. ___(:"3

gatau kenapa tapi galau --

animasi dan grafisnya cantik. musiknya apik, ya ampun. flow ceritanya emang kurang sreg sih, tapi tetep aja kena serangan feels di klimaks cerita. mungkin karena seiyuu-nya yang emang gawl sehingga emosinya tersampaikan dengan baik. 

dan simbolisasinya juga... 

metaforanya ...

cantik banget. 

betapa satu kalimat sederhana bisa memiliki berjuta makna ; kekuatan kata-kata ; nggak butuh banyak bacot soal cinta. saya kagum. kagun karena film ini bisa mengeluarkan kekuatan dari kata itu sendiri, nggak mengumbar gombalitas. (?)


“A faint clap of thunder;
Clouded skies;
Perhaps rain comes – if so, will you stay here with me?”
“A faint clap of thunder;
Even if rain comes not;
I’ll stay here, together with you…”
tanka yang super cakep, kalau saya boleh bilang ___(:"3

visit this site for further observation -- it's more thorough than this rambling lol

虹色蝶々『niji iro chouchou』


.

[What flowed out drop by drop
From a gap in the zipper
Was neither sadness nor tears,
But countless rainbow butterflies]



Karena dalam setiap lembar kenangan, tak hanya birunya air mata dan kuningnya tawa yang tersketsa, namun selalu ada warna lain yang turut mewarnai lembaran kertas simbol memori kita. 


Saat kita buka kembali lembaran cerita lama, mungkin yang pertama kali teringat adalah kesakitan--apa yang kita takutkan, apa yang kita lepaskan, apa yang hilang dari kita, atau luka yang tertoreh saat itu--dan mungkin juga keceriaan--apa yang kita tertawakan, apa yang kita tunggu-tunggu, apa yang kita dapatkan, dan rasa hangatnya senyum kita kala itu--sehingga kita kadang terlupa, di balik tabir warna tersebut, masih ada berbagai lapis warna lain yang menjadi fondasi warna tersebut.


Di balik suka ada duka, dan setelah duka ada suka.


Dan di samping suka dan duka, masih ada warna lain yang mendampingi mereka--hey, warna bukan hanya biru dan kuning, bukan?


Begitu juga lembar kenanganmu.


Because in every memory, things to learn are always 
there.


***


a/n: terinspirasi dari lagu Niji Iro Chouchou, dinyanyikan oleh Kamiya Hiroshi. aku suka lagunya :*

[fic] die dag, we delen een paraplu ; chapter 00


.

a/n: Judul artinya "That Day, We Shared an Umbrella" yakali salah, aku nanya mbah gugel soalnya. sayang sekali, bahasa belandaku itu mentok mentok ik hou van jou. *curhat* btw klik link di bawah ini untuk baca ceritanya. Sosoan LJ-cut nih XD

(Kau akan tahu jalan mana yang harus kau pilih ketika kau merasakan kehilangan--tapi bagaimana kalau kau merasakan kehilangan sesuatu yang berharga dari masing-masing jalan?)

Persona #2 ; Distorsi


.

Hei, kamu. Iya, aku bicara padamu. Kemarilah. Kemari, ke sini, ke pangkuanku. Hari ini aku akan mengajakmu bicara banyak-banyak--atau sepertinya aku akan membuatmu bicara banyak-banyak. Tidak-apa-apa. Sebetulnya aku hanya akan mengajukan satu pertanyaan padamu. Iya, hanya satu.

Sebetulnya kamu, siapa?

Pertanyaan sederhana, bukan? Ah--maafkan aku, tapi aku tidak mau kau menyebut namamu, suatu hal yang pastinya aku sudah mengetahuinya. Yang aku inginkan sebagai jawabanmu adalah kejujuranmu--wajah di balik satu lapis topengmu yang selama ini kau sembunyikan. Wajah aslimu, wajah yang menggambarkan seperti apa dirimu yang sebenarnya.

Aku hanya ingin tahu, siapa kau sebenarnya?

Hei...





...atau sebaiknya, aku tidak usah tahu?

Apakah aku telah jatuh menjadi korban dalam distorsi makna topengmu itu, hm? Mengapa aku lebih tertarik terhadap hal yang kau sembunyikan rapat-rapat dalam dirimu, bukannya yang kau perlihatkan?

Padahal aku bisa saja membencimu kalau aku tahu sisi lainmu itu--satu hal yang paling tak kuinginkan.

Berarti, semua ungkapan "be yourself" itu tidak berlaku untukmu, dong? Kalau aku boleh menduga-duga, sisi dirimu yang kausembunyikan adalah sisi dirimu yang membuatmu takut. Takut akan penolakan dari lingkunganmu terhadap sisi dirimu yang itu. Takut akan kebencian semua orang yang melihatmu dengan wajah itu. Jadi kau mencoba menutupinya dengan topengmu, sampai topengmu itu larut dalam darahmu dan mengakar dalam dagingmu, menjadikan topeng itu bagian dari dirimu, sampai tak jelas batas antara dirimu yang sebetulnya dengan topengmu--itu berarti kau menjadi dirimu sendiri, kan?

Aku tak tahu itu termasuk kebohongan atau tidak. Mungkin iya. Mungkin tidak. Bisa saja kau bilang tidak karena kau merasa nyaman dalam kebohongan dan bisa saja kau bilang iya karena kau merasa tersiksa.

Kalau sudah begitu, apa yang akan kauperbuat?




..hei, jangan protes begitu. Aku kan sudah bilang kalau aku akan membuatmu bicara banyak.